Sejarah yang Terlupakan: Ketika Ahmadiyah Membuka Jalan Penerjemahan Al-Qur'an di Indonesia

Oleh: Ananda Saliko
Mahasiswa ilmu hadis IAIN Sultan Amai Gorontalo

Sulit membayangkan bahwa H.O.S. Tjokroaminoto, guru politik Sukarno sekaligus salah satu tokoh besar Islam Indonesia, pernah menerjemahkan sebuah karya tafsir Al-Qur’an yang berasal dari Ahmadiyah. Lebih mengejutkan lagi, Agus Salim memberikan dukungan terhadap proyek tersebut, sementara beberapa tokoh Muhammadiyah pada masa awal kedatangan Ahmadiyah tidak menunjukkan penolakan yang berarti. Di tengah kontroversi yang mengelilingi Ahmadiyah dewasa ini, fakta sejarah tersebut terdengar hampir mustahil dipercaya.

Namun sejarah intelektual Islam Indonesia memang tidak selalu berjalan dalam garis hitam-putih. Jauh sebelum perdebatan mengenai status kenabian Mirza Ghulam Ahmad mendominasi ruang publik, karya-karya Ahmadiyah justru pernah menjadi salah satu sumber penting bagi kaum Muslim terdidik Indonesia untuk memahami Al-Qur’an. Pada saat sebagian ulama masih memperdebatkan boleh tidaknya Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab, Ahmadiyah telah lebih dahulu memperkenalkan model penerjemahan modern yang disertai catatan kaki, pengantar, dan komentar penjelas.

Daya tarik karya-karya tersebut terletak pada upayanya menjelaskan Al-Qur’an secara rasional dan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Dalam suasana kolonial yang ditandai oleh dominasi pemikiran Barat dan gencarnya aktivitas misionaris Kristen, pendekatan semacam ini memberikan kepercayaan diri baru kepada sebagian intelektual Muslim. Tidak mengherankan jika tokoh-tokoh seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, bahkan Sukarno diketahui pernah bersentuhan dengan literatur Ahmadiyah, meskipun tidak berarti mereka menerima seluruh ajaran teologisnya.

Pengaruh Ahmadiyah bahkan melampaui bahasa Indonesia. Mereka turut menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Belanda, Jawa, Sunda, Batak, hingga Bali. Dalam banyak hal, tradisi penerjemahan yang mereka perkenalkan kemudian mendorong lahirnya berbagai proyek penerjemahan Al-Qur’an oleh organisasi Islam lain dan pemerintah Indonesia. Dengan kata lain, sekalipun banyak penafsiran khas Ahmadiyah ditolak oleh kalangan Muslim arus utama, kontribusi mereka dalam membangun tradisi penerjemahan Al-Qur’an modern tetap merupakan fakta sejarah yang sulit diabaikan.

Ironisnya, seiring menguatnya kontroversi teologis seputar Ahmadiyah, kontribusi intelektual tersebut perlahan tenggelam dari ingatan kolektif umat Islam Indonesia. Perhatian lebih banyak diarahkan pada perbedaan akidah daripada warisan intelektual yang pernah mereka tinggalkan. Karena itu, mungkin sudah saatnya sejarah penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia dibaca kembali secara lebih jujur dan utuh, sebab sejarah yang baik bukanlah sejarah yang hanya mengingat perbedaan, tetapi juga sejarah yang mampu menghargai setiap jejak kontribusi yang pernah diberikan.

©2026 Institut Bahtera Studi Islam Part of Bahtera Al Fikr Press. All Rights Reserved.